You are currently browsing the category archive for the 'remeh temeh' category.

Kita pasti pernah mendengar istilah pillow talk, ya itu percakapan yang dilakukan di atas tempat tidur  menjelang kita berangkat tidur. Saya biasa melakukan pillow talk dengan suami atau anak-anak saya. Walaupun anak-anak saya sudah berangkat besar, mereka selalu minta ‘dikeloni’ bila mau tidur sampai saat ini. Biasanya saya atau suami menemani mereka sambil membicarakan hal-hal ringan yang mereka alami, misalnya kejadian-kejadian di sekolah, teman-teman mereka, film kartun, atau sekedar pembicaraan tentang kucing kita tersayang.

Saya juga biasa melakukan pillow talk dengan suami saya. Pillow talk kami bisa macam-macam, bisa kejadian sehari-hari, percakapan tentang anak-anak, maupun percakapan yang biasa dilakukan suami-istri (you know lah…:-). Tapi ada satu kebiasaan yang suami saya lakukan. Suami saya senang sekali bicara tentang kondisi politik dan sosial negara kita sebagai bahan pillow talk kami. Kebayang kan, pukul 11 atau 12 malam saat badan menuntut jatah untuk beristirahat, suami saya dengan  penuh semangat bicara tentang keadaan carut marut negara kita.

Kalau saya belum mengantuk, biasanya saya menimpali obrolan ini atau saya cukup mendengar pendapat, wejangan, dan nasehat dia. Tapi sering terjadi juga saya sudah begitu capek dan mengantuknya sehingga di satu sisi separuh nyawa saya dengan mata setengah tertutup siap untuk terbang ke alam yang lain, sementara setengahnya lagi mengikuti adab sopan santun istri yang baik yang setia mendengarkan uraian suami yang sedang berapi-api. Biasanya yang terakhir ini hanya bertahan 15-20 menit pertama, namun apa daya, kebutuhan tubuh untuk menenangkan diri dan ‘latihan mati’ (kata anak saya) lebih didengar sehingga akhirnya saya tertidur juga.

Besok paginya paling-paling dia menggerutu karena saya meninggalkannya sendirian berbicara. Tapi karena sudah kebiasaan, maksudnya kita berdua sudah memahami dan mengerti kebiasaan masing-masing, ya kejadian ini selalu berulang, dan tak pernah ada ‘heart-feeling’ sesudahnya.

Kenyataannya, saya selalu merasa kehilangan kebiasaan pillow talk ini bila suami harus meninggalkan saya karena tugas ke luar kota. Saya selalu tak sabar untuk menunggu dia pulang dan melanjutkan kembali kebiasaan ini entah sampai kapan.

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis, padahal kepala serasa sudah penuh dengan gumpalan-gumpalan hal yang ingin cepat-cepat dituangkan dalam tulisan. Saya tidak leluasa untuk menulis karena semata-mata urusan laptop semata wayang yang rusak webcamnya dan telkomsel flash yang bikin masalah terus-terusan (dan saya sudah muuuaaaalllleeesss untuk nulis disini…..:-( ), dan saya terlalu malas untuk ke warnet (saya harus ke Kemang untuk ke warnet yang enak dan nyaman), dan saya tidak enak harus nebeng laptop Abah untuk menulis segala ‘ceceremece’ saya secara si Abah tidak tahu kalau saya punya blog. hehehe…..Paling-paling saya hanya numpang ngecek Friendster, Facebook, dan Yahoo Mail di laptopnya Si Abah.

Akhirnya saya hanya menuangkan dalam bentuk draft di notepad atau di buku catatan saya. Semua hanya garis besarnya saja, belum sedetail-detailnya. Naaah….sebalnya pas saya bisa ol, kepala dan jari sedang tidak ‘tune-in’.

Akhirnya yaaa..ini dulu sajalah tulisan saya setelah hampir 3 minggu absen.