You are currently browsing the category archive for the 'prilaku' category.
Banyak situs-situs pertemanan di internet. Dari sekian banyak, saya memilih Friendster, Facebook, dan Tagged sebagai tempat saya menjalin hubungan dengan teman-teman saya. Awalnya saya mengikuti Friendster karena teman-teman kantor saya banyak menjadi anggota didalamnya. Selanjutnya saya ’sign in‘ dalam Facebook. Di situs ini, selain bertemu kembali dengan teman-teman eks-kantor, saya juga berhasil menemukan kembali teman SD yang sudah sekian lama berpisah. Terakhir, baru-baru ini saya menjadi anggota pertemanan Tagged karena undangan seorang teman, dan ternyata responsnya luar biasa (maksudnya banyak yang tertarik ingin berteman dengan saya, hehehehe…).
Saya sih senang-senang aja mengikuti situs-situs ini dan tidak mau terlalu serius menghadapinya walaupun saya kerap menerima pesan-pesan ‘ajaib’. Saya sudah cukup senang bisa menambah teman, walaupun hanya teman virtual yang saya tak kenal secara fisik.
Saya tahu saya tidak bisa berbuat banyak melihat kenyataan ini. Saya tidak bisa membantu apa-apa. Saya marah, benci, dan sedih melihat kenyataan anak-anak balita berkeliaran di lampu merah jalanan pada jam-jam yang seharusnya mereka sudah berada di dalam rumah yang aman, nyaman, dan damai, atau di atas peraduan yang hangat dan menenangkan, atau dalam dekapan ayah dan ibu yang menyayangi dan melindungi lahir batin.
Saya tidak kuat melihat anak-anak yang berwajah polos walau dengan cemong hitam di sana-sini, dengan baju kotor memainkan alat musik sekedarnya atau hanya bertepuk tangan tanpa irama dan nada yang jelas, meminta uang dari para pengendara mobil atau motor. Saya mengkhawatirkan keselamatan mereka karena tubuh mereka yang begitu mungil dan rentan berada di antara sela-sela mobil dan motor yang berhenti di perempatan lampu merah, sementara kecelakaan, kejahatan, dan ketidakamanan mengintai mereka dimana-mana.
Saya telah menggunakan kartu kredit yang saya punya sekarang ini selama 10 tahun lebih. Kartu kredit ini menjadi satu-satunya kartu kredit yang saya miliki. Alhamdulilah, saya tidak pernah menghadapi masalah dengan kartu kredit ini dan alhamdulilah saya masih diberikan rezeki dari Allah untuk melunasi tagihan pembayarannya.
Saya tidak berniat untuk menambah kartu kredit lagi. Satu sudah cukup. Untuk yang satu ini saja, saya harus ekstra hati-hati menggunakannya. Apalagi saat ini saya tidak bekerja (atau belum bekerja lagi) dan sepenuhnya bergantung pada Abah. Mau tidak mau, saya harus mengendalikan penggunaannya supaya tidak menyusahkan Abah membayar tagihan setiap bulan.
Terus terang kadang-kadang saya termasuk impulsif dalam menggunakan kartu kredit. Kalau sudah begini, rasa menyesal datang kemudian. Cara ampuh untuk menghapus rasa sesal itu adalah dengan berpuasa untuk tidak menggunakan kartu kredit selama satu atau dua bulan berikutnya demi menghindari tagihan menggelembung di bulan-bulan berikutnya.
Hari Minggu kemarin saya dan ketiga laki-laki saya (abah, nibras, dan ammar) berolah raga pagi di Kebun Binatang Ragunan. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 06.20, melewati gang-gang kecil bak labirin, tak sampai 30 menit kami sudah tiba di sana. Seperti yang sudah-sudah, pelataran luar KB Ragunan sudah diramaikan oleh pedagang dan pengunjung yang datang. Dan seperti yang sudah-sudah juga, saya dan abah pasti misuh-misuh melihat kondisi pelataran KB Ragunan yang kotor penuh sampah dan tumpahan dan muntahan makanan segala rupa.
Kami memilih berjalan di dalam area KB Ragunan karena masih relatif sepi. Untuk sepagi ini pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari, kebanyakan adalah orang-orang yang berjogging atau berjalan pagi seperti kami. Kami selalu memilih rute terluar yang melingkari kebun binatang. Kami lebih banyak melewati wilayah berpohon, hutan kecil, rumput, dan danau daripada melewati kandang-kandang binatang disana.


Recent Comments