You are currently browsing the category archive for the 'Cinta' category.

Saya menemukan puisi ini di kumpulan lipatan-lipatan portfolio Ammar saat ia duduk di kelas 2 yang saya bereskan kembali hari ini. Puisi yang dia buat untuk saya:

Ibuku

Ibuku sangat ramah, tapi kadang-kadang suka marah

Ibuku itu baik dan pintar masak-masak

Ibuku suka membaca buku untukku dan suka menggunting kuku       

Ibuku suka bangun pagi

keesokan harinya ibu tidak bangun pagi karena terlalu lelah sekali

Ibuku suka menyuruhku mengerjakan pe er       

tapi malahan aku bermain komputer

* terima kasih ya, Sayang……*

Kalau Anda seperti saya, perempuan mendekati 40 tahun, sudah menikah dan punya anak, jatuh cinta dan dijatuhi cinta (lagi), masih bolehkah? Berdosakah? Dianggap selingkuhkah?

Atau hanya orang muda saja yang belum menikah dan belum punya anak yang boleh jatuh cinta? Sehingga urusan jatuh cinta menjadi  wajar, diterima, dibolehkan, selanjutnya diformalkan dan disahkan dalam bentuk pacaran, selanjutnya menikah, dan kemudian beranak pinak menghasilkan keturunan.

Ah, saya tidak mau pusing soal itu. Kenyataanya saya sedang ‘jatuh’ dan ‘dijatuhi’ cinta. Saya tidak tahu apakah ini benar-benar cinta atau hanya sekedar rasa suka. Saya tidak peduli dan mempersoalkannya karena rasa itu membahagiakan saya sekarang.

Entah kenapa saya melihat ’si cinta’  ini seperti kupu-kupu yang terbang dan hinggap kemana-mana dan dimana-mana. Indah, cantik, berwarna-warni, lincah, lembut, menenangkan, menyenangkan, dan membahagiakan. Begitu dia hinggap di diri kita, gambaran itu yang terasa.

Tapi saya juga  berpikir jatuh cinta itu seperti ‘coca cola’. Dia bisa ‘jatuh’ dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja. Ia menyegarkan sampai ke dasarnya, menimbulkan  efek ‘penuh’ mengenyangkan tapi menyenangkan, rasanya ingin meneguk terus sambil merasakan sensasi gelembung-gelembungnya, walau kadang membuat sesak di dada.  It’s so tempting, indeed…

Saya tidak bisa mengabaikan perasaan itu. Walaupun sebenarnya jatuh cinta atau tidak, toh saya tidak bisa dan tak akan kemana-kemana. I can’t and won’t go more further than I stand now. Saya hanya akan membiarkan rasa itu bersemayam diam-diam tenang di sudut terdalam bilik hati saya, tanpa harus mengganggu dan mengurangi cinta utuh bulat saya kepada ketiga lelaki saya…….

Sayang, saya mencoba memberimu pemikiran dan pendapat saya. Belum tentu benar, tapi belum tentu salah juga. Pada akhirnya semua kembali ke dirimu yang menjalankan. Saya tidak mau dan tidak akan memberi label apapun terhadapmu. Saya tahu semua orang pasti akan berteriak secepat angin dan sekeras geledek label apa yang akan mereka lekatkan kepadamu. Sama cepatnya bila mereka diminta memberi penilaian benar atau salah atas apa yang kamu lakukan. Saya tidak akan membebanimu lagi dengan hal ini.

Sayang, saya mengerti bahwa laki-lakimu itu adalah laki-laki dari negeri impian. Dia yang sedang berada di puncak segalanya, yang mulai mencari-mencari tantangan dan kebahagiaan lain yang beda, yang bisa membangkitkan dan menghangatkan kembali aliran-aliran adrenalin yang sempat mengendap lama. Dia yang memerlukan percikan-percikan baru bagi hidupnya yang sudah stabil dan aman.

Dia hanya perlu appetizer dan dessert, atau mungkin sekedar pickles. Dia tak mau main course. Intinya dia menjalin hubungan ini hanya untuk selingan, bukan untuk dibuat serius. Jangan berharap terlalu banyak pada dia. Dia hanya ingin bersenang-senang. Dia tidak ingin menambatkan hatinya padamu, pun dia tidak mau menjadi tambatan hatimu. Dia tidak mau diatur olehmu, bahkan oleh harapan dan impianmu yang belum terwujud sama sekali. Dia ingin bebas dan melakukan apa yang dia mau, tanpa harus repot bertoleransi dan memahami perasaanmu.

Read the rest of this entry »