You are currently browsing the monthly archive for November 2008.

Kita pasti pernah mendengar istilah pillow talk, ya itu percakapan yang dilakukan di atas tempat tidur  menjelang kita berangkat tidur. Saya biasa melakukan pillow talk dengan suami atau anak-anak saya. Walaupun anak-anak saya sudah berangkat besar, mereka selalu minta ‘dikeloni’ bila mau tidur sampai saat ini. Biasanya saya atau suami menemani mereka sambil membicarakan hal-hal ringan yang mereka alami, misalnya kejadian-kejadian di sekolah, teman-teman mereka, film kartun, atau sekedar pembicaraan tentang kucing kita tersayang.

Saya juga biasa melakukan pillow talk dengan suami saya. Pillow talk kami bisa macam-macam, bisa kejadian sehari-hari, percakapan tentang anak-anak, maupun percakapan yang biasa dilakukan suami-istri (you know lah…:-). Tapi ada satu kebiasaan yang suami saya lakukan. Suami saya senang sekali bicara tentang kondisi politik dan sosial negara kita sebagai bahan pillow talk kami. Kebayang kan, pukul 11 atau 12 malam saat badan menuntut jatah untuk beristirahat, suami saya dengan  penuh semangat bicara tentang keadaan carut marut negara kita.

Kalau saya belum mengantuk, biasanya saya menimpali obrolan ini atau saya cukup mendengar pendapat, wejangan, dan nasehat dia. Tapi sering terjadi juga saya sudah begitu capek dan mengantuknya sehingga di satu sisi separuh nyawa saya dengan mata setengah tertutup siap untuk terbang ke alam yang lain, sementara setengahnya lagi mengikuti adab sopan santun istri yang baik yang setia mendengarkan uraian suami yang sedang berapi-api. Biasanya yang terakhir ini hanya bertahan 15-20 menit pertama, namun apa daya, kebutuhan tubuh untuk menenangkan diri dan ‘latihan mati’ (kata anak saya) lebih didengar sehingga akhirnya saya tertidur juga.

Besok paginya paling-paling dia menggerutu karena saya meninggalkannya sendirian berbicara. Tapi karena sudah kebiasaan, maksudnya kita berdua sudah memahami dan mengerti kebiasaan masing-masing, ya kejadian ini selalu berulang, dan tak pernah ada ‘heart-feeling’ sesudahnya.

Kenyataannya, saya selalu merasa kehilangan kebiasaan pillow talk ini bila suami harus meninggalkan saya karena tugas ke luar kota. Saya selalu tak sabar untuk menunggu dia pulang dan melanjutkan kembali kebiasaan ini entah sampai kapan.

Banyak situs-situs pertemanan di internet. Dari sekian banyak, saya memilih Friendster, Facebook, dan Tagged sebagai tempat saya menjalin hubungan dengan teman-teman saya. Awalnya saya mengikuti Friendster karena teman-teman kantor saya banyak menjadi anggota didalamnya. Selanjutnya saya ’sign in‘ dalam Facebook. Di situs ini, selain bertemu kembali dengan teman-teman eks-kantor, saya juga berhasil menemukan kembali teman SD yang sudah sekian lama berpisah. Terakhir, baru-baru ini saya menjadi anggota pertemanan Tagged karena undangan seorang teman, dan ternyata responsnya luar biasa (maksudnya banyak yang tertarik ingin berteman dengan saya, hehehehe…).

Saya sih senang-senang aja mengikuti situs-situs ini dan tidak mau terlalu serius menghadapinya walaupun saya kerap menerima pesan-pesan ‘ajaib’. Saya sudah cukup senang  bisa menambah teman, walaupun  hanya teman virtual yang saya tak kenal secara fisik.

Read the rest of this entry »