Kedua anak saya senang sekali makan sushi. Awalnya saya hanya sekedar iseng mengajak mereka makan di SushiGroove di Pondok Indah Mall. Eh….ternyata mereka ketagihan. Pintarnya mereka mempunyai keinginan ekstra untuk ‘mengexplore’ restoran-restoran sushi di mal-mal. Tinggal saya yang kelabakan, mengingat makan di restoran sushi lumayan menguras kantong. Untungnya mereka sudah cukup besar untuk mengerti bahwa mereka tidak bisa setiap saat makan sushi, selain karena harganya yang tak murah juga supaya mereka tidak cepat bosan.

Demi memuaskan hasrat mereka, saya berjanji untuk membuat sushi sendiri di rumah. Janji ini sudah sejak jauh-jauh hari tetapi baru terpenuhi kemarin. Sebelumnya saya sudah membeli buku resep bagaimana membuat sushi, kemudian membeli bahan-bahannya termasuk membeli beras Jepang, nori, dan tikar untuk menggulung sushi (makisu). Kebetulan sekali pada saat saya berbelanja di Supermarket D’Best Fatmawati, saya mendapat saran-saran gratis dari Si Mbak yang  menjaga counter sushi di ujung dekat bagian penjualan ikan.   Disana terdapat sudut yang menyediakan sushi  siap santap dan bahan-bahan mentah pelengkapnya seperti telur ikan terbang (tobiko), salmon mentah, gurita, dll.

Akhirnya sore kemarin berhasil juga sushi dibuat. Saya berhasil membuat enam gulung sushi dari setengah kilo beras. Namanya baru pertama kali, nasi yang diratakan di atas nori agak terlalu tebal sehingga hasilnya sushi gendut-gendut seperti saya…!!!  Tapi tampaknya kedua kurcaci saya dan ayah mereka sudah tak sabar dan tak mempedulikan penampilan, dua gulung sushi yang baru selesai digulung dan dipotong langsung dimakan dan licin tandas…!!!

Saya memodifikasi sendiri isian sushi, yaitu dengan udang tempura, crab stick, daun selada, dilapisi dengan mayoinaise. Beberapa gulung sushi saya lapisi bagian luarnya dengan telur ikan terbang (tobiko). Anak-anak saya menikmati hanya dengan mayones dan sambal botol. Benar-benar “selera asal dan ngasal” karena saya tak menyediakan wasabi, acar lobak, dan acar jahe merah karena mereka tak menyukainya. 

Mungkin sushi buatan saya tak se’profesional’ para ahli sushi di restoran Jepang termuka, tapi untuk konsumsi keluarga dan membahagiakan mereka, menurut saya sushi buatan saya tak mengecewakan.  Ini gambar dari satu setengah gulung yang tersisa…