Saya mungkin termasuk orang yang terlambat membaca tetralogi Pramoedya Ananta Toer walaupun keempat buku itu sudah berada di rak buku saya sejak lama. Entah kenapa, baru kira-kira sebulan terakhir ini, hati saya tergerak untuk memulai membaca satu persatu buku-buku itu.
Sebenarnya awalnya karena keingintahuan saya mengapa buku-buku itu sampai dicekal selama pemerintahan Orde Baru, apa yang salah dari isi buku-buku itu sampai pemerintahan Soeharto melarang peredarannya. Memang kesadaran yang terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Ya kan?
Saat ini saya telah menyelesaikan dua buku, “Bumi Manusia” dan “Anak Segala Bangsa”, dan sedang menyelesaikan buku ketiga, “Jejak Langkah”.
Lewat pelajaran sejarah di sekolah saya tahu bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 350 tahun, saya tahu bahwa kita berperang melawan Belanda pada era 1940-an, dll. Tidak ada kesadaran mendalam yang menyentuh sanubari karena terbatasnya pengetahuan saya. Dari dua buku yang telah saya selesaikan saya merasakan mendapat pencerahan luar biasa. Saya merasa pikiran saya seperti peloncat jauh yang merentangkan kaki lebar-lebar sehingga melewati batas yang ada. Saya mendapat cakrawala pengetahuan dan wawasan baru melebihi apa yang saya mengerti selama ini. Saya mendapat pemahaman baru mengenai kolonialisme, anti-kolonialisme, feodalisme, kesadaran sebagai orang dan bangsa Indonesia, kesadaran terhadap perbedaan perlakuan karena perbedaan ras, langsung menyentuh akarnya.
Saya tidak mengerti dan tidak paham politik dan saya tidak mau repot-repot memahaminya. Saya menyesalkan mengapa pemerintah Orde Baru begitu picik dan bodoh melarang buku-buku ini beredar. Sudah seharusnya buku-buku ini dibaca oleh generasi saya atau generasi di bawah saya supaya mereka memahami pergulatan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda selama ini. Tak tertutup kemungkinan melalui buku-buku ini kita justru bisa memahami prilaku bangsa Indonesia sekarang ini.
Terlepas dari latar belakang politis Pramoedya Ananta Toer, saya menganggap buku-bukunya luar biasa. Ide dan pikiran yang dia tuangkan dalam buku-bukunya menggambarkan bahwa dia jauh melampaui pikiran orang-orang kebanyakan.Dan sudah sewajarnya kita menghargai karya-karyanya.
Saya tidak melakukan bedah buku di sini karena saya merasa saya bukan ahlinya. Saya hanya orang awam dengan segala keterbatasan yang ada. Apa yang saya tulis disini semata-mata adalah ketertakjuban saya atas apa yang saya peroleh setelah saya selesai membaca buku-buku ini. Saya mendapat pengayaan luar biasa darinya.
Masih ada dua buku lagi yang saya harus selesaikan, bahkan masih ada buku-buku lain dari Pramudya yang saya akan baca. Saya berharap saya selalu akan terus mendapat ’sesuatu’ yang lain setiap selesai membacanya.

No comments yet
Comments feed for this article