Saya telah menggunakan kartu kredit yang saya punya sekarang ini selama 10 tahun lebih. Kartu kredit ini menjadi satu-satunya kartu kredit yang saya miliki. Alhamdulilah, saya tidak pernah menghadapi masalah dengan kartu kredit ini dan alhamdulilah saya masih diberikan rezeki dari Allah untuk melunasi tagihan pembayarannya.

Saya tidak berniat untuk menambah kartu kredit lagi. Satu sudah cukup. Untuk yang satu ini saja, saya harus ekstra hati-hati menggunakannya. Apalagi saat ini saya tidak bekerja (atau belum bekerja lagi) dan sepenuhnya bergantung pada Abah. Mau tidak mau, saya harus mengendalikan penggunaannya supaya tidak menyusahkan Abah membayar tagihan setiap bulan.

Terus terang kadang-kadang saya termasuk impulsif dalam menggunakan kartu kredit. Kalau sudah begini, rasa menyesal datang kemudian. Cara ampuh untuk menghapus rasa sesal itu adalah dengan berpuasa untuk tidak menggunakan kartu kredit selama satu atau dua bulan berikutnya demi menghindari tagihan menggelembung di bulan-bulan berikutnya.

Saya perhatikan dalam beberapa tahun terakhir ini banyak bank penerbit kartu kredit menawarkan fasilitas KTA (Kredit Tanpa Agunan). Saya mengalami beberapa pengalaman lucu dengan penawaran KTA ini. Belum lama ini saya dihubungi oleh bank penerbit kartu kredit yang saya punyai. Inti pembicaraannya adalah saya memperoleh fasilitas KTA tanpa syarat-syarat yang rumit karena saya dianggap memiliki track record yang baik.

Karena saya tidak membutuhkan, saya menolak tawaran itu. Namun si Mbak terus memaksa. Ujung-ujungnya saya jadi tertawa karena si Mbak mengatakan, “Kan mau Lebaran, Ibu pasti perlu uang tunai untuk belanja, untuk mudik, untuk keperluan lain.” Buat saya sangat tidak etis dan tidak masuk akal bila saya memaksakan diri merayakan Lebaran dengan berutang dengan bank. Terutama sekali, saya malu kepada Allah dan merasa berdosa bila saya sampai melakukan hal itu.

Hal lucu lain pernah terjadi pula. Saya kembali dihubungi oleh bank yang sama. Dengan alasan yang sama pula saya dianggap beruntung karena mendapat pinjaman uang tunai tanpa agunan. Selanjutnya percakapan ini yang terjadi.

Operator: “apakah ibu bekerja saat ini?”
Saya  : “Oh tidak, Mbak. saya sudah tidak bekerja lagi”
Operator: “oh begitu, Bu. Atau mungkin ibu punya usaha lain misalnya wiraswasta?”
Saya : “Oh tidak juga, Mbak. saya tidak punya usaha. Saya ibu rumah tangga”
Operator: “Oh begitu, Bu. Kalau memang demikian, mohon maaf kami tidak dapat memberikan fasilitas KTA yang kami  sampaikan tadi”
Saya (nyengir dalam hati): “Oh gak papa Mbak. Saya nggak masalah kog. Tadi kan Mbak yang menawarkan, bukan saya yang meminta. Lagi pula, saya jadi tidak perlu berhutang, kan?”

Inti ujung pembicaraan ini adalah saya dianggap tidak berkompeten untuk mendapatkan pinjaman karena saya tidak bekerja, yang berarti saya tidak punya penghasilan, yang berarti pula saya dianggap tidak bisa membayar kembali pinjaman berikut bunganya nantinya, dan berarti pula saya berpotensi menjadi nasabah bermasalah karena kasus kredit macet.

Nevermind. Tidak masalah buat saya. Buat saya kartu kredit bukan sekedar kartu tipis yang pas untuk menghias dompet, tapi sebuah benda kecil yang penting namun menuntut tanggung jawab, kesadaran penuh, dan kontrol diri. Yang penting, saya tahu kapan saya harus menggunakannya dan bagaimana mengendalikannya agar saya tidak terjerat dan terhindar dari belitan jahatnya.