Saya tahu saya tidak bisa berbuat banyak melihat kenyataan ini. Saya tidak bisa membantu apa-apa. Saya marah, benci, dan sedih melihat kenyataan anak-anak balita berkeliaran di lampu merah jalanan pada jam-jam yang seharusnya mereka sudah berada di dalam rumah yang aman, nyaman, dan damai, atau di atas peraduan yang hangat dan menenangkan, atau dalam dekapan ayah dan ibu yang menyayangi dan melindungi lahir batin.
Saya tidak kuat melihat anak-anak yang berwajah polos walau dengan cemong hitam di sana-sini, dengan baju kotor memainkan alat musik sekedarnya atau hanya bertepuk tangan tanpa irama dan nada yang jelas, meminta uang dari para pengendara mobil atau motor. Saya mengkhawatirkan keselamatan mereka karena tubuh mereka yang begitu mungil dan rentan berada di antara sela-sela mobil dan motor yang berhenti di perempatan lampu merah, sementara kecelakaan, kejahatan, dan ketidakamanan mengintai mereka dimana-mana.
Saya benci orang-orang dewasa yang mengatur dan mengorganisasi mereka, orang-orang dewasa yang hanya duduk tenang di semak-semak di balik kegelapan malam namun dengan mata awas mengawasi kelakuan anak-anak ini.Saya benci mereka yang memperdaya, memanipulasi, dan menggunakan ‘kekuasaan’nya untuk mengendalikan anak-anak, bahkan kadang menyakiti dan menganiaya mereka.
Saya benci melihat orang-orang dewasa yang seharusnya mengayomi, memberi perlindungan, dan membentangkan atap kasih sayang terhadap anak-anak tak berdosa dan tak berdaya ini. Sementara anak-anak ini tanpa pretensi apa-apa, tak punya pengalaman hidup sama sekali, tanpa mengerti dan memahami kerasnya hidup ini, menggantungkan hidup mereka pada orang-orang dewasa tak bertanggung jawab ini. Orang-orang dewasa yang seharusnya mengulurkan tangan dan mengajarkan hal-hal yang baik, benar, danĀ berguna untuk masa depan anak-anak ini.
Saya tak kuasa untuk melindungi anak-anak ini dari orang-orang dewasa yang mengatasnamakan kemiskinan dan merasa berhak untuk memperlakukan dan memperkerjakan anak-anak seperti apa yang mereka mau, dan menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk kesejahteraan anak-anak itu sendiri.
Saya bisa membayangkan anak-anak akan menjadi manusia seperti apa kelak mereka dewasa bila mereka berada di lingkungan buruk seperti itu sepanjang hidup mereka dan saya takut membayangkan bagaimana orang tua mereka mempertanggungjawabkan amanat mulia ini di depan Allah kelak.
Saya tak berdaya melihat kejahatan di depan mata. Saya tak kuasa untuk menolong mereka. Saya tidak bisa menembus jalinan kusut yang membentuk lingkaran setan yang begitu rumit dan tak kuasa mengurai satu-persatu jeratan yang mengikat tangan, kaki, dan seluruh badan anak-anak mungil tak berdosa ini.
Maafkan saya.

1 comment
Comments feed for this article
October 5, 2008 at 2:40 pm
adit
I share the pain and the inability to help. Yang saya bisa lakukan biasanya hanya mendoakan Mba. Semoga mereka besarnya nanti tidak menjadi orang-orang miskin lagi.