Saya bisa dibilang bukan orang yang spontan. Saya cenderung untuk selalu melakukan sesuatu berdasarkan rencana. Misalnya saya harus pergi ke bank, saya harus memasak menu A atau B, atau makan di luar, paling tidak saya harus merencanakan satu hari sebelumnya, atau pada pagi harinya bila sesuatu itu harus dilakukan pada malam harinya. Bahkan untuk sekedar window shopping di mall, saya terbiasa untuk merencanakan satu hari sebelumnya.

Apalagi untuk urusan ke luar kota, apakah itu urusan kerjaan (dulu) atau sekedar jalan-jalan bersama Abah dan anak-anak, pasti selalu berdasarkan rencana yang disusun jauh-jauh hari atau bebeberapa hari sebelumnya.

Nah, ternyata kali ini saya bisa juga melakukan sesuatu di luar rencana.  Berawal dari hari Jum’at yang lalu, saat saya menyadari bahwa saya hanya sendirian di rumah karena anak-anak mengikuti program 3 R  (Ramadhan, Retreat, Recollection Program – semacam pesantren kilat) di sekolah dan Abah meeting dengan Pertamina Cirebon dan tidak bisa balik pada hari yang sama dan memilih menginap semalam di Cirebon karena tidak mau terjepit di tengah macet Jum’at sore begitu sampai di Jakarta.

Pukul setengah tiga siang, Abah meng-sms saya supaya saya menyusul dia ke Cirebon dengan menggunakan kereta paling malam dari Gambir. Akhirnya setelah berpikir hanya dalam waktu 10 menit saya memutuskan ke Cirebon sore itu juga. Dengan menggunakan bussway dilanjutkan dengan taksi Blue Bird, saya sampai di Gambir pukul 1630 sore. Saya segera membeli karcis kereta Argo Jati yang akan berangkat pukul 1710 dan tiba di Cirebon pukul 2058.

Begitu duduk di kereta sambil melamun termenung-menung, saya baru menyadari bahwa pergi ke luar kota sendirian tanpa rencana seperti ini adalah kali pertama dalam hidup saya. Sempat terlintas juga pikiran-pikiran buruk, seperti kecelakaan, atau kereta anjlok di tengah sawah, atau saya dicopet, dll. Tapi akhirnya saya mencoba untuk menenangkan pikiran dan menikmati perjalanan malam dengan memandangi gambaran hitam pekat berkejaran di luar sana dan menyaksikan program televisi “Safari” mengenai ular rattle. Saya tak bisa membaca karena penerangan agak buram dan saya terlalu malas untuk memaksa mata saya membaca tulisan-tulisan di buku.

Sesampai di stasiun Cirebon, Abah sudah menjemput saya. Dengan menumpang becak (setelah sekian lama tidak pernah menikmati duduk di becak), kami berdua langsung ‘berwisata malam’ di kota Cirebon. Tidak terlalu jauh sih, kami hanya mencari tempat makan enak untuk mengenyangkan perut setelah buka puasa sekedarnya di kereta. Akhirnya kami makan di restoran seafood Pak Moel di Jalan Kalibaru (yang paling enak, kata Pak Bondan Winarno ahli kuliner).

Besok paginya, dengan masih menggunakan becak, kami berpesiar walau hanya sebentar, membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Kami berdua kembali ke Jakarta dengan kereta Cirebon Express pukul 1000 pagi.

Memang hanya perjalanan singkat, tapi lumayan juga saya bisa menikmati hal-hal kecil di luar kebiasaan yang ternyata menyenangkan juga.  Merasakan bagaimana untuk pertama kalinya saya bisa pergi ke luar kota sendirian malam-malam tanpa rencana dan tak pernah saya lakukan sebelumnya dan untuk pertama kalinya saya dan Abah bisa ke luar kota berdua saja tanpa anak-anak (terakhir kami melakukannya  pada saat kami baru saja menikah, sebelum anak-anak ada).

Terakhir, saya merencanakan untuk menyusul abah tugas ke Cepu awal Oktober nanti.. (tuuuh…kan, belum apa-apa saya sudah buat rencana lagi. Benar ‘kan, saya tidak bisa spontan…hehehe…)