You are currently browsing the monthly archive for September 2008.
Saya tahu saya tidak bisa berbuat banyak melihat kenyataan ini. Saya tidak bisa membantu apa-apa. Saya marah, benci, dan sedih melihat kenyataan anak-anak balita berkeliaran di lampu merah jalanan pada jam-jam yang seharusnya mereka sudah berada di dalam rumah yang aman, nyaman, dan damai, atau di atas peraduan yang hangat dan menenangkan, atau dalam dekapan ayah dan ibu yang menyayangi dan melindungi lahir batin.
Saya tidak kuat melihat anak-anak yang berwajah polos walau dengan cemong hitam di sana-sini, dengan baju kotor memainkan alat musik sekedarnya atau hanya bertepuk tangan tanpa irama dan nada yang jelas, meminta uang dari para pengendara mobil atau motor. Saya mengkhawatirkan keselamatan mereka karena tubuh mereka yang begitu mungil dan rentan berada di antara sela-sela mobil dan motor yang berhenti di perempatan lampu merah, sementara kecelakaan, kejahatan, dan ketidakamanan mengintai mereka dimana-mana.
Saya telah menggunakan kartu kredit yang saya punya sekarang ini selama 10 tahun lebih. Kartu kredit ini menjadi satu-satunya kartu kredit yang saya miliki. Alhamdulilah, saya tidak pernah menghadapi masalah dengan kartu kredit ini dan alhamdulilah saya masih diberikan rezeki dari Allah untuk melunasi tagihan pembayarannya.
Saya tidak berniat untuk menambah kartu kredit lagi. Satu sudah cukup. Untuk yang satu ini saja, saya harus ekstra hati-hati menggunakannya. Apalagi saat ini saya tidak bekerja (atau belum bekerja lagi) dan sepenuhnya bergantung pada Abah. Mau tidak mau, saya harus mengendalikan penggunaannya supaya tidak menyusahkan Abah membayar tagihan setiap bulan.
Terus terang kadang-kadang saya termasuk impulsif dalam menggunakan kartu kredit. Kalau sudah begini, rasa menyesal datang kemudian. Cara ampuh untuk menghapus rasa sesal itu adalah dengan berpuasa untuk tidak menggunakan kartu kredit selama satu atau dua bulan berikutnya demi menghindari tagihan menggelembung di bulan-bulan berikutnya.
Saya mungkin termasuk orang yang terlambat membaca tetralogi Pramoedya Ananta Toer walaupun keempat buku itu sudah berada di rak buku saya sejak lama. Entah kenapa, baru kira-kira sebulan terakhir ini, hati saya tergerak untuk memulai membaca satu persatu buku-buku itu.
Sebenarnya awalnya karena keingintahuan saya mengapa buku-buku itu sampai dicekal selama pemerintahan Orde Baru, apa yang salah dari isi buku-buku itu sampai pemerintahan Soeharto melarang peredarannya. Memang kesadaran yang terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Ya kan?
Saat ini saya telah menyelesaikan dua buku, “Bumi Manusia” dan “Anak Segala Bangsa”, dan sedang menyelesaikan buku ketiga, “Jejak Langkah”.
Saya ingin berbagi sedikit mengenai terapi HypnoParenting. Pengetahuan mengenai terapi HypnoParenting ini saya dapatkan dari seminar yang diselenggarakan oleh SHIPA, organisasi orang tua murid di sekolah tempat anak-anak saya belajar, bekerja sama dengan ‘Diamond In You’ Hypnotherapy Center pada 23 Agustus yang lalu. Apa yang saya sampaikan disini hanyalah pengetahuan umum yang saya serap selama saya mengikuti seminar ini. Bila ada yang berminat ingin tahu lebih banyak, Anda dapat menghubungi saya untuk informasi alamat penyelenggara (saya tidak bermaksud promosi, semata-mata hanya ingin membantu mereka yang memerlukan).
Saya bisa dibilang bukan orang yang spontan. Saya cenderung untuk selalu melakukan sesuatu berdasarkan rencana. Misalnya saya harus pergi ke bank, saya harus memasak menu A atau B, atau makan di luar, paling tidak saya harus merencanakan satu hari sebelumnya, atau pada pagi harinya bila sesuatu itu harus dilakukan pada malam harinya. Bahkan untuk sekedar window shopping di mall, saya terbiasa untuk merencanakan satu hari sebelumnya.
Apalagi untuk urusan ke luar kota, apakah itu urusan kerjaan (dulu) atau sekedar jalan-jalan bersama Abah dan anak-anak, pasti selalu berdasarkan rencana yang disusun jauh-jauh hari atau bebeberapa hari sebelumnya.
Nah, ternyata kali ini saya bisa juga melakukan sesuatu di luar rencana. Berawal dari hari Jum’at yang lalu, saat saya menyadari bahwa saya hanya sendirian di rumah karena anak-anak mengikuti program 3 R (Ramadhan, Retreat, Recollection Program – semacam pesantren kilat) di sekolah dan Abah meeting dengan Pertamina Cirebon dan tidak bisa balik pada hari yang sama dan memilih menginap semalam di Cirebon karena tidak mau terjepit di tengah macet Jum’at sore begitu sampai di Jakarta.
Read the rest of this entry »
Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis, padahal kepala serasa sudah penuh dengan gumpalan-gumpalan hal yang ingin cepat-cepat dituangkan dalam tulisan. Saya tidak leluasa untuk menulis karena semata-mata urusan laptop semata wayang yang rusak webcamnya dan telkomsel flash yang bikin masalah terus-terusan (dan saya sudah muuuaaaalllleeesss untuk nulis disini…..:-( ), dan saya terlalu malas untuk ke warnet (saya harus ke Kemang untuk ke warnet yang enak dan nyaman), dan saya tidak enak harus nebeng laptop Abah untuk menulis segala ‘ceceremece’ saya secara si Abah tidak tahu kalau saya punya blog. hehehe…..Paling-paling saya hanya numpang ngecek Friendster, Facebook, dan Yahoo Mail di laptopnya Si Abah.
Akhirnya saya hanya menuangkan dalam bentuk draft di notepad atau di buku catatan saya. Semua hanya garis besarnya saja, belum sedetail-detailnya. Naaah….sebalnya pas saya bisa ol, kepala dan jari sedang tidak ‘tune-in’.
Akhirnya yaaa..ini dulu sajalah tulisan saya setelah hampir 3 minggu absen.

Recent Comments