Saya merasa sedih dan capek sekali hari ini. Ungkapan jujur saya mungkin akan menyebabkan saya kehilangan teman hari ini.

Saya melihat betapa banyak orang berpura-pura, menunjukkan seolah-olah menjadi pasangan yang paling berbahagia seluruh dunia, tapi saya tahu salah satu dari mereka, atau malah mereka berdua, saling berkhianat satu sama lain. Saya tahu semua cerita di balik topeng kesetiaan yang mereka pertunjukkan ke orang-orang. I know it’s none of my business, anyway. Tapi melihat semua itu terasa begitu memuakkan dan menyakitkan.

Ungkapan jujur saya yang mempertanyakan hal itu ke salah satu teman yang saya pikir bisa terbuka menerima pendapat saya, malah membangkitkan kemarahannya. Dan dia memutuskan kita untuk berpisah dan tak mencampuri urusan masing-masing.

Memang salah saya. Saya terlalu mencampuri urusan orang lain, dalam hal ini teman saya. Nyatanya walaupun teman, dia tetap orang lain yang punya masalah sendiri dan pendapat sendiri, dan tidak senang urusannya dicampuri orang lain.

Nasi sudah jadi bubur, walaupun saya sudah meminta maaf. Saya tidak mau kehilangan dia. Dia berarti buat saya, satu teman adalah segalanya buat saya. Don’t know what to do..

 

Kita pasti pernah mendengar istilah pillow talk, ya itu percakapan yang dilakukan di atas tempat tidur  menjelang kita berangkat tidur. Saya biasa melakukan pillow talk dengan suami atau anak-anak saya. Walaupun anak-anak saya sudah berangkat besar, mereka selalu minta ‘dikeloni’ bila mau tidur sampai saat ini. Biasanya saya atau suami menemani mereka sambil membicarakan hal-hal ringan yang mereka alami, misalnya kejadian-kejadian di sekolah, teman-teman mereka, film kartun, atau sekedar pembicaraan tentang kucing kita tersayang.

Saya juga biasa melakukan pillow talk dengan suami saya. Pillow talk kami bisa macam-macam, bisa kejadian sehari-hari, percakapan tentang anak-anak, maupun percakapan yang biasa dilakukan suami-istri (you know lah…:-). Tapi ada satu kebiasaan yang suami saya lakukan. Suami saya senang sekali bicara tentang kondisi politik dan sosial negara kita sebagai bahan pillow talk kami. Kebayang kan, pukul 11 atau 12 malam saat badan menuntut jatah untuk beristirahat, suami saya dengan  penuh semangat bicara tentang keadaan carut marut negara kita.

Kalau saya belum mengantuk, biasanya saya menimpali obrolan ini atau saya cukup mendengar pendapat, wejangan, dan nasehat dia. Tapi sering terjadi juga saya sudah begitu capek dan mengantuknya sehingga di satu sisi separuh nyawa saya dengan mata setengah tertutup siap untuk terbang ke alam yang lain, sementara setengahnya lagi mengikuti adab sopan santun istri yang baik yang setia mendengarkan uraian suami yang sedang berapi-api. Biasanya yang terakhir ini hanya bertahan 15-20 menit pertama, namun apa daya, kebutuhan tubuh untuk menenangkan diri dan ‘latihan mati’ (kata anak saya) lebih didengar sehingga akhirnya saya tertidur juga.

Besok paginya paling-paling dia menggerutu karena saya meninggalkannya sendirian berbicara. Tapi karena sudah kebiasaan, maksudnya kita berdua sudah memahami dan mengerti kebiasaan masing-masing, ya kejadian ini selalu berulang, dan tak pernah ada ‘heart-feeling’ sesudahnya.

Kenyataannya, saya selalu merasa kehilangan kebiasaan pillow talk ini bila suami harus meninggalkan saya karena tugas ke luar kota. Saya selalu tak sabar untuk menunggu dia pulang dan melanjutkan kembali kebiasaan ini entah sampai kapan.

Banyak situs-situs pertemanan di internet. Dari sekian banyak, saya memilih Friendster, Facebook, dan Tagged sebagai tempat saya menjalin hubungan dengan teman-teman saya. Awalnya saya mengikuti Friendster karena teman-teman kantor saya banyak menjadi anggota didalamnya. Selanjutnya saya ’sign in‘ dalam Facebook. Di situs ini, selain bertemu kembali dengan teman-teman eks-kantor, saya juga berhasil menemukan kembali teman SD yang sudah sekian lama berpisah. Terakhir, baru-baru ini saya menjadi anggota pertemanan Tagged karena undangan seorang teman, dan ternyata responsnya luar biasa (maksudnya banyak yang tertarik ingin berteman dengan saya, hehehehe…).

Saya sih senang-senang aja mengikuti situs-situs ini dan tidak mau terlalu serius menghadapinya walaupun saya kerap menerima pesan-pesan ‘ajaib’. Saya sudah cukup senang  bisa menambah teman, walaupun  hanya teman virtual yang saya tak kenal secara fisik.

Read the rest of this entry »

Kedua anak saya senang sekali makan sushi. Awalnya saya hanya sekedar iseng mengajak mereka makan di SushiGroove di Pondok Indah Mall. Eh….ternyata mereka ketagihan. Pintarnya mereka mempunyai keinginan ekstra untuk ‘mengexplore’ restoran-restoran sushi di mal-mal. Tinggal saya yang kelabakan, mengingat makan di restoran sushi lumayan menguras kantong. Untungnya mereka sudah cukup besar untuk mengerti bahwa mereka tidak bisa setiap saat makan sushi, selain karena harganya yang tak murah juga supaya mereka tidak cepat bosan.

Read the rest of this entry »

Saya tahu saya tidak bisa berbuat banyak melihat kenyataan ini. Saya tidak bisa membantu apa-apa. Saya marah, benci, dan sedih melihat kenyataan anak-anak balita berkeliaran di lampu merah jalanan pada jam-jam yang seharusnya mereka sudah berada di dalam rumah yang aman, nyaman, dan damai, atau di atas peraduan yang hangat dan menenangkan, atau dalam dekapan ayah dan ibu yang menyayangi dan melindungi lahir batin.

Saya tidak kuat melihat anak-anak yang berwajah polos walau dengan cemong hitam di sana-sini, dengan baju kotor memainkan alat musik sekedarnya atau hanya bertepuk tangan tanpa irama dan nada yang jelas, meminta uang dari para pengendara mobil atau motor. Saya mengkhawatirkan keselamatan mereka karena tubuh mereka yang begitu mungil dan rentan berada di antara sela-sela mobil dan motor yang berhenti di perempatan lampu merah, sementara kecelakaan, kejahatan, dan ketidakamanan mengintai mereka dimana-mana.

Read the rest of this entry »

Saya telah menggunakan kartu kredit yang saya punya sekarang ini selama 10 tahun lebih. Kartu kredit ini menjadi satu-satunya kartu kredit yang saya miliki. Alhamdulilah, saya tidak pernah menghadapi masalah dengan kartu kredit ini dan alhamdulilah saya masih diberikan rezeki dari Allah untuk melunasi tagihan pembayarannya.

Saya tidak berniat untuk menambah kartu kredit lagi. Satu sudah cukup. Untuk yang satu ini saja, saya harus ekstra hati-hati menggunakannya. Apalagi saat ini saya tidak bekerja (atau belum bekerja lagi) dan sepenuhnya bergantung pada Abah. Mau tidak mau, saya harus mengendalikan penggunaannya supaya tidak menyusahkan Abah membayar tagihan setiap bulan.

Terus terang kadang-kadang saya termasuk impulsif dalam menggunakan kartu kredit. Kalau sudah begini, rasa menyesal datang kemudian. Cara ampuh untuk menghapus rasa sesal itu adalah dengan berpuasa untuk tidak menggunakan kartu kredit selama satu atau dua bulan berikutnya demi menghindari tagihan menggelembung di bulan-bulan berikutnya.

Read the rest of this entry »

Saya mungkin termasuk orang yang terlambat membaca tetralogi Pramoedya Ananta Toer walaupun keempat buku itu sudah berada di rak buku saya sejak lama. Entah kenapa, baru kira-kira sebulan terakhir ini, hati saya tergerak untuk memulai membaca satu persatu buku-buku itu.

Sebenarnya awalnya karena keingintahuan saya mengapa buku-buku itu sampai dicekal selama pemerintahan Orde Baru, apa yang salah dari isi buku-buku itu sampai pemerintahan Soeharto melarang peredarannya. Memang kesadaran yang terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Ya kan?

Saat ini saya telah menyelesaikan dua buku, “Bumi Manusia” dan “Anak Segala Bangsa”, dan sedang menyelesaikan buku ketiga, “Jejak Langkah”.

Read the rest of this entry »

Saya ingin berbagi sedikit mengenai terapi HypnoParenting. Pengetahuan mengenai terapi HypnoParenting ini saya dapatkan dari seminar yang diselenggarakan oleh SHIPA, organisasi orang tua murid di sekolah tempat anak-anak saya belajar, bekerja sama dengan ‘Diamond In You’ Hypnotherapy Center pada 23 Agustus yang lalu. Apa yang saya sampaikan disini hanyalah pengetahuan umum yang saya serap selama saya mengikuti seminar ini. Bila ada yang berminat ingin tahu lebih banyak, Anda dapat menghubungi saya untuk informasi alamat penyelenggara (saya tidak bermaksud promosi, semata-mata hanya ingin membantu mereka yang memerlukan).

Read the rest of this entry »

Saya bisa dibilang bukan orang yang spontan. Saya cenderung untuk selalu melakukan sesuatu berdasarkan rencana. Misalnya saya harus pergi ke bank, saya harus memasak menu A atau B, atau makan di luar, paling tidak saya harus merencanakan satu hari sebelumnya, atau pada pagi harinya bila sesuatu itu harus dilakukan pada malam harinya. Bahkan untuk sekedar window shopping di mall, saya terbiasa untuk merencanakan satu hari sebelumnya.

Apalagi untuk urusan ke luar kota, apakah itu urusan kerjaan (dulu) atau sekedar jalan-jalan bersama Abah dan anak-anak, pasti selalu berdasarkan rencana yang disusun jauh-jauh hari atau bebeberapa hari sebelumnya.

Nah, ternyata kali ini saya bisa juga melakukan sesuatu di luar rencana.  Berawal dari hari Jum’at yang lalu, saat saya menyadari bahwa saya hanya sendirian di rumah karena anak-anak mengikuti program 3 R  (Ramadhan, Retreat, Recollection Program – semacam pesantren kilat) di sekolah dan Abah meeting dengan Pertamina Cirebon dan tidak bisa balik pada hari yang sama dan memilih menginap semalam di Cirebon karena tidak mau terjepit di tengah macet Jum’at sore begitu sampai di Jakarta.
Read the rest of this entry »

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis, padahal kepala serasa sudah penuh dengan gumpalan-gumpalan hal yang ingin cepat-cepat dituangkan dalam tulisan. Saya tidak leluasa untuk menulis karena semata-mata urusan laptop semata wayang yang rusak webcamnya dan telkomsel flash yang bikin masalah terus-terusan (dan saya sudah muuuaaaalllleeesss untuk nulis disini…..:-( ), dan saya terlalu malas untuk ke warnet (saya harus ke Kemang untuk ke warnet yang enak dan nyaman), dan saya tidak enak harus nebeng laptop Abah untuk menulis segala ‘ceceremece’ saya secara si Abah tidak tahu kalau saya punya blog. hehehe…..Paling-paling saya hanya numpang ngecek Friendster, Facebook, dan Yahoo Mail di laptopnya Si Abah.

Akhirnya saya hanya menuangkan dalam bentuk draft di notepad atau di buku catatan saya. Semua hanya garis besarnya saja, belum sedetail-detailnya. Naaah….sebalnya pas saya bisa ol, kepala dan jari sedang tidak ‘tune-in’.

Akhirnya yaaa..ini dulu sajalah tulisan saya setelah hampir 3 minggu absen.